Keuangan Berkelanjutan dan Pembiayaan Syariah Jadi Pilihan Pendanaan untuk Capai Target Transisi Energi

Wakil Presiden Ma’ruf Amin didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada acara rangkaian seminar G20 (27/07/2002). (Dok. Sekretariat Seminar)

Jakarta, 28 Juli 2022 – Menuju G20 Summit, Forum Energy Transition Working Group (ETWG) Indonesia G20 2022 dan T20 Indonesia menyelenggarakan rangkaian seminar yang bertajuk “Unlocking Innovative Financing Schemes and Islamic Finance to Accelerate a Just Energy Transition in Emerging Economies”. Tiga isu utama dalam transisi energi yang menjadi perhatian, yaitu aksesibilitas, teknologi dan pembiayaan. Sebelum G20 Summit pada bulan November nanti, ETWG diharapkan mampu menemukan terobosan dalam hal teknologi dan pembiayaan serta mendiskusikan model terbaik untuk mobilisasi pembiayaan publik dan swasta pada energi terbarukan.

Ketua Forum ETWG, Yudo D. Priaadi menegaskan bahwa membuka dan menangkap peluang pembiayaan akan sangat penting bagi Indonesia dalam melebarkan aksesibilitas dan inklusivitas demi terciptanya transisi energi yang berkelanjutan.

Merespon hal tersebut, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyatakan, “OJK berkomitmen mempromosikan keuangan berkelanjutan untuk memastikan kelancaran transisi menuju ekonomi rendah karbon”.

“OJK mendukung pemerintah mewujudkan komitmen dalam Kesepakatan Paris menuju Net Zero Emission pada 2050 dengan menerbitkan sejumlah roadmap pembiayaan berkelanjutan sejak 2015 dan tahap kedua yang akan diselesaikan pada periode 2021-2025”, lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’aruf Amin mengungkapkan, pembiayaan berkelanjutan di Indonesia dapat dilakukan berdampingan dengan pembiayaan syariah. Kaidah syariah menjunjung pelestarian bumi dan kemaslahatan manusia. Sehingga, pembiayaan Islamik berpotensi tinggi untuk mendanai Energi Baru Terbarukan (EBT), misalnya lewat wakaf, sukuk dan bonds.

Beliau menambahkan,”Inovasi dan promosi sukuk perlu ditingkatkan agar ketertarikan masyarakat terhadap transisi energi semakin tinggi”.

Menjawab pernyataan di atas, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyepakati bahwa sukuk wakaf dapat dijadikan alternatif yang baik dalam mencapai target transisi energi.

Dari sisi kerangka kerja, beliau mengungkapkan bahwa prioritas transisi energi diakomodasi lewat Energy Transition Mechanism (ETM) yang telah diluncurkan sejak tahun lalu. ETM merupakan kerangka kerja penyediaan pembiayaan yang diperlukan dalam mempercepat transisi energi nasional dengan memobilisasi sumber pendanaan komersial maupun non-komersial secara berkelanjutan. Platform ini juga memungkinkan peningkatan infrastruktur energi Indonesia dan mempercepat transisi energi bersih menuju NZE dengan cara adil dan terjangkau.

Anna Skarbek, CEO Climateworks Centre, yang menjadi mitra penyelenggara seminar ini, menambahkan, “Momentum pembiayaan transisi energi di Indonesia sudah ada dan terlihat. ETM Platform di bawah Kementerian Keuangan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Asian Development Bank (ADB) merupakan contoh nyata bahwa negara ini sudah mengambil langkah-langkah untuk dapat menarik lebih banyak investasi dan menciptakan berbagai skema peluang pendanaan untuk transisi energi”.

Rangkaian seminar ini terselenggara oleh ETWG Indonesia G20 2022 dan T20 Indonesia, berkolaborasi dengan Centre For Policy Development (CPD) Australia, Climateworks Centre, International Institute for Sustainable Development (IISD), Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID), dan the Institute for Essential Services Reform (IESR), serta didukung oleh Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC).

Tags: No tags

Comments are closed.